Kegiatan

Gotong Royong Berlanjut, EMCL Lakukan Monev Pembangunan di Desa-Desa Bojonegoro & Tuban

Bojonegoro – Tuban , Program Peningkatan Infrastruktur Publik yang digagas ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memasuki tahap monitoring dan evaluasi (monev). Kegiatan yang digelar pada Jumat (17/10) ini melibatkan empat desa penerima program, yakni Desa Simo di Kecamatan Soko, Desa Sambiroto dan Desa Ngampel di Kecamatan Kapas, serta Desa Pacul di Kecamatan Bojonegoro.

Monev dilakukan untuk memastikan pembangunan yang dilaksanakan secara baik oleh masyarakat berjalan sesuai rencana, berkualitas, serta memberikan manfaat nyata bagi warga. Program ini dijalankan bersama Forum Studi Pengembangan Potensi Daerah (FOSPORA) sebagai mitra pelaksana di lapangan.

Di setiap desa, tim monev meninjau langsung hasil pembangunan sekaligus mendengarkan masukan dari warga. Di Desa Ngampel, pembangunan trotoar di sepanjang jalan utama kini memperindah lingkungan sekaligus meningkatkan keselamatan pejalan kaki. Kepala Desa Ngampel menyebut, pembangunan tersebut dikerjakan secara gotong royong. “Warga ikut terlibat sejak perencanaan hingga pengawasan. Jadi, mereka merasa memiliki dan ikut menjaga hasilnya,” ujarnya.

Sementara di Desa Sambiroto, pembangunan Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes) hampir rampung. Fasilitas ini diharapkan memperluas akses layanan kesehatan dasar bagi warga. Di Desa Pacul, warga bersama pemerintah desa fokus membangun Jalan Usaha Tani (JUT) yang membuka akses bagi petani menuju lahan pertanian. Adapun Desa Simo memprioritaskan perbaikan jalan lingkungan guna memperlancar mobilitas warga.

Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, mengatakan kegiatan monev menjadi langkah penting untuk menjamin akuntabilitas dan kualitas hasil pembangunan. “Kami ingin memastikan seluruh kegiatan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan bisa dimanfaatkan jangka panjang. Partisipasi warga menjadi kunci agar program ini berkelanjutan,” ujarnya.

Manager Program FOSPORA, Makdum Rokhim, menambahkan bahwa kegiatan monev bukan sekadar peninjauan teknis, tetapi juga ruang pembelajaran bersama. “Warga diberi kesempatan untuk menilai, mengoreksi, dan memberikan saran langsung. Dari sinilah lahir budaya partisipatif dalam mengelola pembangunan,” katanya.

Kepala Desa Pacul menyebut, pelatihan dan pendampingan yang diberikan EMCL dan FOSPORA membawa dampak positif bagi peningkatan kapasitas aparatur dan warga. “Kami jadi lebih paham soal pengelolaan anggaran, pelaporan, dan standar keselamatan kerja. Semua dilakukan secara terbuka,” tuturnya.

Program Peningkatan Infrastruktur Publik EMCL telah berjalan di sejumlah desa di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban sejak awal tahun. Melalui pendekatan berbasis partisipasi masyarakat, program ini diharapkan memperkuat ekonomi desa sekaligus menumbuhkan kemandirian warga dalam mengelola pembangunan secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *